Polusi Udara Mengancam Masyarakat



Polusi udara merupakan salah satu masalah lingkungan yang penting di dunia saat ini. Di Indonesia, akhir-akhir ini polusi udara telah menjadi perbincangan publik karena telah menjadi ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Berdasarkan laporan terbaru Kualitas Udara Dunia Indeks Quality Air (IQAir) 2021 yang dirilis pada Maret 2022, Indonesia menempati peringkat ke-17 sebagai negara dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia, dengan konsentrasi PM2,5 mencapai 34,3 μg per meter kubik. Lebih dari 99% masyarakat hidup di wilayah yang dimana tingkat polusi udara melebihi pedoman kualitas udara dari World Health Organization (WHO), dan setiap tahunnya, 4,2 juta kematian dapat dikaitkan dengan polusi udara lingkungan. Menurut World Health Organization (WHO) indeks kualitas udara berkisar dari 0 hingga 500. Jika kualitas udara di atas 500 adanya tingkat polusi udara berbahaya. Kualitas udara yang baik berkisar dari 0 hingga 50, sedangkan pengukuran di atas 300 dianggap berbahaya.

Penyebab polusi udara tidak hanya asap kendaraan bermotor. Asap pembakaran batu bara, hutan, dan sampah, maupun bau yang berasal dari produk pembersih rumah tangga berbahan kimia juga bisa manjadi sumber polusi udara.

“Dampak polusi udara di Indonesia sangat mengkhawatirkan karena banyak sekali pengaruh buruk yang didapat, salah satunya banyak orang yang terkena penyakit pernapasan hanya karena polusi udara,” kata Firda, Selasa (28/11/2023).

Tanggapan dari mahasiswi lainnya ialah kandungan yang terdapat pada polusi udara sangat mengganggu kesehatan tubuh.

“Polusi udara ini mengandung CO yang dapat membuat tubuh kita tidak sehat dan jika kita terus menghirup udara kotor dapat menimbulkan penyakit,” kata Nahdah, Rabu (29/11/2023).

World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa polusi udara mengandung gas CO di udara. Sumber gas CO di udara adalah mobil, truk dan kendaraan lainnya atau mesin yang membakar bahan bakar fosil. Gas CO dapat menyebabkan kematian, karena polusi udara 3 kali lebih besar dibandingkan dengan kematian yang disebabkan oleh malaria, TBC dan AIDS.

Selain itu mahasiswi yang berasal dari Universitas Diponegoro (UNDIP) mengatakan, timbulnya penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) yang disebabkan karena polusi udara yang semakin meningkat.

“Kita lebih sering beraktivitas di luar ruangan, dengan adanya polusi udara yang kita hirup tiap harinya akan menganggu aktivitas dan kesehatan tubuh . Seperti ISPA, jika kita sudah terkena ISPA maka daya tahan tubuh kita melemah dan kita lebih mudah terkena penyakit lainnya,” kata Fatin, Selasa (28/11/2023).

Hingga saat ini ISPA masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Dikutip dari data Kementerian Kesehatan menunjukkan, kasus ISPA non-pneumonia di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek) pada 29 Agustus sampai 6 September 2023 mencapai 90.546 kasus. Kenaikan kasus mulai terjadi pada awal pekan ini. Pada 3 September 2023, kasus harian sebanyak 4.759 kasus. Jumlah itu naik signifikan menjadi 11.116 kasus pada 4 September dan meningkat menjadi 16.074 kasus pada 5 September.

Pemerintah telah melakukan banyak cara agar polusi udara menurun, khususnya di ibu kota DKI Jakarta. Dikutip dari bbc.com pada tanggal 11 Agustus Pemprov DKI Jakarta umumkan razia uji emisi dan memberikan sanksi kepada pemilik kendaraan bermotor yang belum melakukan uji emisi. Pada tanggal 14 Agustus Pemprov DKI Jakarta umumkan WFH bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), lalu pada tanggal 24 Agustus Pemprov DKI Jakarta lakukan penyiraman jalan.

"Partikel ini PM2,5 banyak beredarnya di udara, di atas. Jadi kalau menyemprot air itu di atas, bukan di bawah," kata Menteri Budi saat ditemui di area Car Free Day, 27 Agustus, seperti dilansir detikcom.

Pada tanggal 31 Agustus Erick Thohir matikan PLTU.

"Okelah PLTU sekarang disalahkan, kita matikan Suralaya, 1, 2, 3, 4. Tetapi di data terakhir, tidak mengurangi polusi ternyata. Tapi tetap kita matikan, karena ini komitmen bersama untuk menjaga polusi," kata Erick, kepada wartawan di Gedung DPR, Kamis (31/08) seperti dilaporkan detikcom.

Pemerintah telah mengakui kontribusi PLTU terhadap polusi udara. Namun, ternyata tidak mengurangi polusi yang ada.

Para mahasiswi berpendapat bahwa upaya pemerintah dalam mengurangi polusi udara belum efektif.

 “Menurut saya belum efektif, karena semua hal yang sudah pemerintah lakukan belum terlihat perubahan yang signifikan,” ujar Firda.

“Ada beberapa daerah yang memang belum efektif, pemerintah lebih mengutamakan daerah-daerah yang udah parah banget contohnya DKI Jakarta,” ujar Fatin.

 Dikutip dari rri.com Sudah seharusnya, pemerintah mengambil tindakan konkret yang lebih fundamental.

Nama: Faizah Nuruzzahra

Kelas: H

NIM: 23041184376


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merasakan makanan resto (MKR) khas pakistan yang lagi viral di daerah KH Mas Mansyur

Peresmian Gedung PW Muslimat NU

Transformasi Preferensi Media: Dari Bioskop ke Netflix