Tanggapan Masyarakat Terhadap Isu Kelaparan: Menjalin Solidaritas untuk Mengatasi Krisis Pangan

 kelaparan masih menjadi permasalahan serius yang masih dihadapi oleh masyarakat di berbagai belahan dunia, khususnya di Indonesia. Kelaparan bukan hanya masalah pribadi tetapi juga masalah sosial, yang mempengaruhi kualitas hidup dan kebahagiaan banyak orang. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah orang yang terkena dampak kelaparan terus meningkat, baik di pedesaan maupun perkotaan.

 Menurut data Badan Ketahanan Pangan, pada tahun 2023, terdapat sekitar 21,8 juta orang di Indonesia yang mengalami kelaparan.

Kelaparan dapat disebabkan oleh banyak faktor, antara lain kemiskinan, bencana alam, perubahan iklim, konflik, terbatasnya akses terhadap pangan dan kurangnya kebijakan yang mendukung sistem pangan yang berkelanjutan. Dalam situasi sulit seperti ini, masyarakat berperan penting dalam menyikapi dan mengatasi krisis pangan. Kesadaran terhadap permasalahan pangan masih menjadi pertanyaan apakah masyarakat menyadari hal ini dan mengetahui bagaimana peran yang dapat dilakukan.

Seorang pemuda bernama Rosyad memberikan pendapat mengenai permasalahan kelaparan. Ia menilai bahwa isu kelaparan bukan menjadi masalah baru yang dihadapi oleh banyak orang

“Masih banyak dari saudara kita yang tingkat ekonominya rendah sehingga sangat minim penghasilan sehingga (akibatnya) menyebabkan kepalaran dimana-mana”

Ketika ditanya mengenai penyebab utama kelaparan Rosyad berpendapat bahwa kurangnya penghasilan menyebabkan masyarakat yang kurang mampu sulit memenuhi kebutuhan pokok. Ditambah lagi lapangan kerja yang masih kurang menyebabkan masalah ini terjadi

“Pertumbuhan penduduk yang pesat tidak seimbang dengan jumlah lapangan kerja yang disediakan. Akibatnya, populasi penduduk meledak, lapangan kerja berkurang dan kelaparan dimana-mana”

Rosyad juga menjelaskan, salah satu tindakan konkret yang bisa lakukan untuk mengurangi kelaparan ialah dengan memberdayakan masyarakat melalui program keterampilan yang dibuat pemerintah. Dengan begitu, seseorang akan memiliki skill dalam bekerja untuk mendapatkan penghasilan dalam memenuhi kebutuhan pokok.

Peran solidaritas dan kolaborasi dalam menghadapi krisis pangan dirasakan olehnya. Dia mengamati bahwa sudah ada perubahan secara perlahan yang dilakukan karena ada kesadaran dari masyarakat langsung

“Misalkan setelah solat Jumat umat muslim mendapat sedekah gratis dari masyarakat yang dibagikan oleh/lewat pihak masjid”

Pentingnya peran solidaritas dan kolaborasi juga disampaikan oleh Endy. Menurutnya, solidaritas dan kolaborasi berperan penting dalam mengatasi krisis pangan. Melalui solidaritas, individu, komunitas, organisasi, dan pemerintah dapat bersama sama memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, membagi sumber daya, dan meningkatkan kesadaran akan masalah krisis pangan.

“Dengan solidaritas dan kerja sama yang kuat, berbagai pihak dapat bersatu untuk mengurangi kesenjangan dalam akses pangan, meningkatkan ketahanan pangan, dan membangun landasan yang lebih kuat untuk mengatasi krisis pangan”

Bagi Rosyad, ada 5 hal penting yang ia harapkan dari pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi kelaparan :

1. Mensosialisasikan sikap tolong menolong sesuai ajaran agama masing-masing

2. Menerapkan poin nomor 1

3. Membuka dan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat

4. Pendidikan gratis oleh pemerintah dari jenjang, SD, SMP, hingga SMA

5. Sosialisasi dan penerapan KB

Nama : Aldian Lukmanul Hakim

Kelas : H

NIM : 23041184381


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merasakan makanan resto (MKR) khas pakistan yang lagi viral di daerah KH Mas Mansyur

Peresmian Gedung PW Muslimat NU

Transformasi Preferensi Media: Dari Bioskop ke Netflix